![]()
Customer Service Online
Phone +62 361 239385
Mobile +62 85737 089079

Yahoo Mesenger


Pin BB :
29219AFD
Silahkan klik link di bawah
Klik tombol like di bawah
Elizabeth International
![]()
follow
@Elizabeth_ID

Kami memiliki data kerja setiap lulusan, tercatat 98% lulusan bekerja SEBELUM DIWISUDA dan kami menerima penghargaan sebagai kampus dg penempatan kerja tercepat! silahkan datang ke kampus, dapatkan info lengkap plus bursa kerja dalam dan luar negeri
Menjaga Sikap dan Prilaku
Menang bukan berarti harus merendahkan pihak yang sudah dikalahkan. Untuk memelihara hubungan anda sebagai pemenang dan lawan anda yang kalah justru yang harus dilakukan adalah hal yang sebaliknya. Kita harus berusaha menjaga martabat kemanusiaan lawan kita. Persaingan yang bisa jadi menjurus ke permusuhan harus disulap menjadi persahabatan dan rasa perdamaian. Kalau anda bisa melakukan ini, poin penting akan anda raih. Anda bukan saja akan dicintai oleh para pendukung anda, tetapi juga akan disegani bahkan mungkin akan disukai oleh orang-orang yang sebelumnya menjadi lawan (musuh) anda.
Kalau anda membaca sejarah, sikap seperti itu pernah dilakukan Jenderal Douglas Mc Arthur. Dialah jenderal, panglima Amerika Serikat dalam Perang Dunia II yang berhasil menaklukkan Jepang pada 1945. Pada akhir Agustus tahun tersebut ia mendarat di Lapangan Atsugi untuk bersiap-siap menghadiri upacara penandatanganan dokumen pernyataan takluk Jepang kepada pasukan Sekutu.
Waktu itu Kaisar Hirohito memang sudah mentitahkan kepada tentara Jepang agar meletakkan senjata. Namun, bukan berarti ancaman sudah tidak ada. Pemuda Jepang yang tergabung dalam Sonno Joi Gigun menolak untuk menyerah. Beberapa pilot kamikaze , pilot yang menyerang musuh dengan bunuh diri, bahkan berniat berperang sampai titik darah penghabisan.
Namun Mc Arthur tetap nekat mendarat di Lapangan Atsugi, lapangan tempat latihan pasukan kamikaze Jepang. Waktu itu para bawahan Mc Arthur mengkhawatirkan keselamatan jenderalnya. Namun, sang panglima dengan tenang naik mobil Lincoln tua yang disediakan pemerintah Jepang dari Lapangan Atsugi ke hotel tempatnya menginap yang berjarak sekitar 25 km.
Di hotel pun ia melahap dengan nikmat steak yang disediakan pegawai hotel. Padahal stafnya menginginkan agar steak itu dicicipi terlebih dulu oleh seorang Jepang karena khawatir makanan itu diracuni sebelumnya. Manajer hotel saat itu saking terharunya mengucapkan terima kasih karena panglima AS tersebut menunjukkan sikap yang tidak curiga.
Apa yang dilakukan Jenderal Mc Arthur tersebut ingin menunjukkan sikap bahwa pasukan pendudukan AS di Jepang akan bersikap rendah hati. Itulah kuncinya, rendah hati. Sikap itu tentu saja membuat Jepang terpesona. Mereka tidak merasa direndahkan oleh Jenderal Mc Arthur, padahal Jepang dalam keadaan takluk.
Sikap Mc Arthur tidak berhenti sampai di situ. Ketika berpidato dalam upacara penandatanganan dokumen pernyataan takluk Jepang di kapal perang Missori, 2 September 1945, ia menunjukkan sikap membuat delegasi Jepang kaget dan simpati. “Kita berkumpul di sini, para wakil kekuatan-kekuatan utama yang berperang, untuk menyimpulkan suatu persetujuan yang khidmat, yang akan merupakan jalan untuk memulihkan perdamaian”. Mc Arthur menekankan, baik para penakluk dan pihak yang ditaklukkan, harus bangkit ke arah sebuah kehidupan, yang ditujukan untuk “kemerdekaan, toleransi dan keadilan”.
Pidato itu tentu membuat surprise bagi delegasi Jepang. Seorang anggota delegasi Jepang, Toshikazu Kaze, mengutarakan, sebenarnya Mc Arthur bisa saja mendektekan hukuman yang berat dan menghina kepada bangsa Jepang. Tapi ternyata itu tidak dilakukan oleh Mc Arthur. Suasana permusuhan di atas kapal perang Missori telah disulap menjadi suasana perdamaian oleh Jenderal AS tersebut. Itulah sebenarnya kemenangan sesungguhnya yang diciptakan oleh Mc Arthur.
Salam Transformasi @Coach_Nyoman

Copyright © 2013 Elizabeth Indonesia · All Rights Reserved